![]() |
| Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad menilai, terpilihnya Bamsoet menjadi Ketua MPR periode 2019-2024, dinilai akan meredakan konflik internal dalam tubuh Partai Golkar. |
Nasional (Munas) ke X pada Desember 2019. Kedua bakal calon ketua umum
yakni, Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang semula
saling berebut meraih dukungan kini tidak lagi berkompetisi. Bahkan
keduanya saat ini saling mendukung satu sama lain.
Apalagi,
setelah Bamsoet terpilih sebagai Ketua MPR. Dukungan tersebut didapat
dari Ketua Umum Airlangga yang melakukan konsolidasi hampir kepada
seluruh fraksi. Setelah paripurna pemilihan, Bamsoet juga memberikan
dukungannya kepada Airlangga yang akan maju kembali sebagai ketua umum
Partai Golkar periode 2019-2024. Sebelumnya, tersiar kabar bahwa saling
dukung mendukung antara Airlangga dan Bamsoet merupakan sebuah
kesepakatan bagi-bagi jabatan.
Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad
menilai, terpilihnya Bamsoet menjadi Ketua MPR periode 2019-2024,
dinilai akan meredakan konflik internal dalam tubuh Partai Golkar. Menurut Fadel, ketika Bamsoet menjadi Ketua MPR maka Airlangga akhirnya
dapat melenggang di Munas Golkar. Ini juga menjadi buah ‘deal politik’
dengan Airlangga agar dapat mempertahankan jabatannya sebagai ketua umum
Golkar. “Ya betul arahnya ke sana, supaya tidak ada konflik internal.
Seperti biasa ini kan proses,” ucap Fadel.
Mantan Wakil Ketua
Umum DPP Partai Golkar ini berharap saat Airlangga menjabat kembali
kursi ketua umum Golkar nanti, citra partai berlambang Pohon Beringin
ini bisa kembali baik.
”Semuanya dapat mendukung kinerja Golkar
sampai pemilu berikutnya. Harapannya bagus, Insya Allah semua baik.
Golkar menyatu untuk mendukung mereka,” ujarn
Ketua DPP Partai
Golkar Dito Ariotedjo menegaskan tidak ada kesepakatan yang terjadi
antara keduanya. Menurut dia, pihak Bamsoet memiliki kesadaran penuh
memberikan dukungan kepada Airlangga. “Setahu saya bukan tukar jabatan
yah, itu kesadaran (Bamsoet) sendiri,” katanya
Pria yang akrab
disapa Dito itu memaparkan hasil konsolidasi internal partai yang
membahas masa depan Partai Golkar ke depan. Dito mengaku mengapresiasi
dukungan yang diberikan mantan Ketua DPR itu sehingga bisa memuluskan
jalan Airlangga sebagai ketua umum partai.
“Peluang Airlangga
terlihat semakin mulus untuk kembali menjabat ketua umum Golkar,
terlebih sejak bersatunya Pak Bamsoet bersama Pak Airlangga Hartarto.
Semoga sampai Munas kekompakan dan kesolidan ini terjaga. Agar lebih
siap menghadapi tantangan Golkar ke depan,” ujar Dito.
Peneliti
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandez
menyambut baik konsolidasi internal Partai Golkar. Apalagi setelah
adanya dukungan dari Airlangga kepada Bamsoet untuk maju sebagai Ketua
MPR. Langkah ini menjadikan jalan mulus bagi Airlangga di Munas Golkar.“Nah tentu sekarang kalau kita lihat, dalam Munas ini posisi Airlangga
seperti di atas angin. Terutama tadi, setelah kesepakatan kedua tadi.
Tapi saat ini belum muncul tokoh lain yang mau bertarung secara terbuka
dengan Airlangga. Kalau Bamsoet menyatakan mundur dan meminta proses
aklamasi dilakukan, tentu akan mudah sekali bagi Airlangga untuk
menang,” sambungnya.
Kendati demikian, Dito memberikan catatan,
dalam sejarah Partai Golkar pascareformasi dinamika menjelang Munas
adalah hal yang biasa terjadi.
Misalnya, saat Surya Paloh pernah
berhadapan dengan Aburizal Bakrie, lalu ada Jusuf Kalla berhadapan
dengan Akbar Tandjung. Untuk itu, kata Arya, Airlangga jangan senang
dahulu karena bisa jadi ada kandidat lain yang bisa muncul kemudian
hari.
“Golkar kan identik dengan kompetisi internal dan menurut
saya dengan dinamika internal yang tinggi kemudian dengan karakter
partai sebagai partai yang mengedepankan internal dan demokratisasi
internal. Artinya calon kuda hitam itu ada potensinya. Kompetisi di
Golkar itu tinggi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan