Kategori: Pandeglang

  • Jembatan Jalan Nasional di Cigeulis Pandeglang Ambruk, Jalur Cigeulis–Cibaliung Terganggu Jelang Mudik

    Jembatan Jalan Nasional di Cigeulis Pandeglang Ambruk, Jalur Cigeulis–Cibaliung Terganggu Jelang Mudik

     

    PANDEGLANG, KONTAK BANTEN – Sebuah jembatan di jalur jalan nasional Cigeulis–Cibaliung, tepatnya di Kampung Babakan Kiara, Desa Waringin Jaya, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, ambruk pada Senin (9/3/2026) malam. Peristiwa tersebut mengakibatkan arus lalu lintas di jalur tersebut harus diberlakukan sistem buka tutup, sehingga berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat, termasuk menjelang arus mudik Lebaran.

    Koordinator Wilayah II Perkumpulan Boedak Saung, Ade Komarudin, mengatakan jembatan ambruk sekitar pukul 19.30 WIB atau setelah waktu salat Isya. Kerusakan yang terjadi cukup parah karena sebagian badan jembatan runtuh.

    “Benar, ambruk tadi malam setelah Isya. Kondisinya cukup parah karena sebagian badan jembatan runtuh,” kata Ade, Selasa (10/3/2026).

    Meski demikian, ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian, kondisi lalu lintas di jalur tersebut relatif sepi sehingga tidak ada kendaraan yang melintas tepat di lokasi.

    “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, karena saat kejadian lalu lintas sedang sepi,” ujarnya.

    Akibat kerusakan itu, kendaraan besar seperti truk dan angkutan umum berukuran besar tidak dapat melintas. Sementara kendaraan kecil masih diperbolehkan melintas secara bergantian dengan sistem buka tutup.

    Ade mengimbau para pengguna jalan yang hendak melintas dari arah Cibaliung menuju Cigeulis atau Panimbang untuk mencari jalur alternatif guna menghindari kemacetan maupun risiko kecelakaan.

    Sementara itu, Camat Cigeulis, Hafid, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa sebelum ambruk, kondisi jembatan memang telah mengalami kerusakan berupa retakan sejak beberapa hari sebelumnya.

    “Sekitar tiga hari lalu jembatan memang sudah terlihat retak-retak. Kemudian pada Senin malam sebagian badan jembatan akhirnya ambruk,” jelasnya.

    Menurut Hafid, panjang bagian jembatan yang ambruk diperkirakan mencapai sekitar lima hingga enam meter. Kerusakan tersebut diduga dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Cigeulis dalam beberapa hari terakhir.

    Untuk mengantisipasi kecelakaan, petugas telah memasang garis pembatas dan penanda di sekitar lokasi agar pengendara mengetahui kondisi jalan yang rusak.

    “Kami sudah memasang garis pembatas di lokasi agar pengendara berhati-hati saat melintas,” katanya.

    Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan jembatan ini berpotensi mengganggu arus lalu lintas saat musim mudik Lebaran, mengingat jalur Cigeulis–Cibaliung merupakan salah satu akses penghubung penting di wilayah selatan Kabupaten Pandeglang.

    Pemerintah Kecamatan Cigeulis telah melaporkan kejadian tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Pandeglang melalui Dinas PUPR dan Sekretaris Daerah untuk diteruskan kepada instansi terkait, mengingat jembatan tersebut berada di jalur jalan nasional.

    “Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Pemkab Pandeglang agar segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait, karena statusnya merupakan jalan nasional,” pungkasnya.

  • Penampakan Petani Timun Suri Hasilkan Cuan Saat Bulan Ramadan

    Penampakan Petani Timun Suri Hasilkan Cuan Saat Bulan Ramadan

     

    Pandeglang  KONTAK BANTEN  Sejumlah petani di Kecamatan Jiput, Kabupaten
    Pandeglang, Banten, memasok sekitar tiga ton timun suri per hari ke
    wilayah DKI Jakarta.

    “Kami sehari memasok buah kuning berwarna
    emas (timun suri) itu ke Jakarta rata-rata mencapai tiga ton per hari,”
    kata Rohim, seorang bandar timun suri di Pandeglang, Minggu.

    Produksi timun suri di wilayah Jiput Pandeglang setiap bulan suci Ramadhan menjadi andalan ekonomi masyarakat.

    Menurut
    dia, petani menanam buah puan atau timun suri dua bulan sebelum
    Ramadhan dan panen pada awal puasa hingga menjelang Lebaran.

    Produksi
    timun suri untuk seluas empat petak sawah bisa menghasilkan sebanyak
    satu ton dan diperkirakan dapat panen hingga puluhan hektare.

    Rohim
    mengatakan selama 14 tahun terakhir telah menjadi pedagang timun suri,
    memasoknya ke sejumlah pasar di Jakarta, seperti Kebayoran, Palmerah
    hingga Pasar Minggu.

    “Kami menampung produksi timun suri langsung dari petani dengan harga Rp4.000 per kilogram (kg),” katanya menjelaskan.

    Sanukri, seorang petani timun suri di kecamatan tersebut
    mengaku dirinya memanen timun suri dari hasil tanam Desember 2025 dan
    panen Februari 2026, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1447 Hijriah.

    Produksi
    ketimun suri tersebut dipasok ke luar daerah melalui pengempul atau
    tangkulak yang membeli langsung di lahan pertanian. Mereka para
    penampung ketimun suri itu membeli ke petani Rp4.000-Rp5.000 per kg
    tergantung besar kecilnya.

    “Kami panen timun suri seluas 12 petak sawah, diperkirakan tiga ton,” katanya.

    Ia
    mengatakan hasil budi daya tanaman timun suri relatif membantu
    pendapatan ekonomi keluarga. Keuntungan pengembangan tanaman buah khas
    bulan Ramadhan itu mencapai Rp12 juta di lahan 12 petak sawah.

    “Kami berharap hasil panen timun suri dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga,” ujar dia.

    Begitu
    pula dengan Emed, seorang petani timun suri lainnya dari Jiput mengaku
    memanen timun suri untuk dipasok ke wilayah Tangerang dan Jakarta.

    Musim panen tahun 2026, menurut dia, relatif bagus karena didukung curah hujan dari Desember 2025 sampai awal Februari 2026.

    “Kami panen timun suri ditampung oleh pengepul,” katanya.

    Sementara
    itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang
    Nuridawati mengatakan petani di daerah tersebut sudah terbiasa menanam
    timun suri menjelang Ramadhan.

    Sebab, menurut dia, permintaan
    timun suri dari daerahnya cukup tinggi. Itu karena buahnya memiliki
    keunggulan, selain rasanya yang pulen dan beraroma, daging buahnya
    tebal.

    “Kami mengapresiasi petani Jiput setiap Ramadhan sebagai
    penghasil buah timun suri terbesar di Pandeglang dan bisa memasok ke
    Jakarta,” katanya.
  • Mathla’ul Anwar Banten Siap Sambut Muktamar XXI, Sarasehan Perkuat Konsolidasi dan Arah Masa Depan

    Mathla’ul Anwar Banten Siap Sambut Muktamar XXI, Sarasehan Perkuat Konsolidasi dan Arah Masa Depan

    BANTEN KONTAK BANTEN   Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) Provinsi Banten menggelar
    Silaturahmi dan Sarasehan di Gedung Serba Guna DPRD Banten pada Rabu
    (11/02/2026), sebagai langkah strategis menjelang pelaksanaan Muktamar
    XXI yang dijadwalkan pada April mendatang di Kota Serang. Sarasehan ini
    juga menjadi bagian dari persiapan Munas ke-6 Muslimat MA, yang
    diharapkan menjadi momentum penting dalam regenerasi dan penguatan
    peradaban umat.

    Dalam sambutannya, KH. Embay Mulya Syarief, Ketua Umum PB MA,
    menggarisbawahi peran penting Mathla’ul Anwar, yang telah berdiri lebih
    dari 100 tahun, dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial untuk
    kemajuan umat Islam. “Organisasi ini lahir di Menes, Kabupaten
    Pandeglang, dan kini telah berkembang pesat, dengan fokus utama pada
    peningkatan kualitas pendidikan di Banten,” ujarnya. Dengan lebih dari
    satu abad berkontribusi dalam pendidikan dan sosial, Mathla’ul Anwar
    telah memperlihatkan dampak positif yang besar bagi masyarakat.

    Asep Rohmatulloh, Ketua OC Muktamar XXI, menyatakan bahwa Muktamar
    XXI akan menjadi momentum untuk memperkuat peran Mathla’ul Anwar, baik
    di tingkat nasional maupun internasional. “Melalui muktamar ini, kami
    berharap Mathla’ul Anwar tidak hanya menjadi organisasi besar, tetapi
    juga dapat membawa dampak besar bagi umat,” ungkapnya.

    Walidan, Ketua Panitia Muktamar XXI, menambahkan bahwa acara
    sarasehan ini sangat strategis untuk memperkuat ukhuwah di kalangan
    anggota dan memperkokoh peran Mathla’ul Anwar di masyarakat. “Sarasehan
    ini sebagai bagian dari konsolidasi menuju Muktamar XXI dan Munas ke-6
    Muslimat, memperkokoh semangat organisasi dalam menghadapi tantangan
    zaman,” katanya.

    Dr. H. Komarudin, M.Si., Asda 1 Provinsi Banten, menambahkan,
    “Muktamar ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi juga soal penguatan
    peradaban umat. Mathla’ul Anwar harus menjadi contoh bagi ormas Islam
    lainnya dalam berkontribusi pada pembangunan daerah, memperkuat
    ekosistem pendidikan, dan memajukan kesejahteraan sosial.”

    Imron Rosadi, Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, menekankan bahwa
    acara ini akan menjadi ajang untuk menghasilkan gagasan strategis demi
    kemajuan Banten, terutama di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
    “Semoga muktamar yang akan datang bisa memperkuat Mathla’ul Anwar
    sebagai ormas Islam terbesar yang terus berkontribusi untuk Indonesia
    dan dunia,” tegas Imron dalam sambutannya.

    Namun, dalam acara ini, muncul beberapa kritik terkait eksistensi
    Mathla’ul Anwar di masyarakat. Prof. Syibli Sarjaya, mantan Rektor UIN
    Sultan Maulana Hasanuddin Banten, mengingatkan akan perlunya penguatan
    persatuan internal organisasi. “Mathla’ul Anwar masih dihitung, tetapi
    belum diperhitungkan,” tegasnya. Ia juga mengusulkan agar Mathla’ul
    Anwar memperbaiki konsolidasi organisasi serta penguatan kelembagaan,
    guna memperbesar daya saing organisasi ini dengan ormas-ormas besar
    lainnya.

    Dr. KH. Jazuli Juwaini, anggota DPR RI dari Fraksi PKS, menyoroti
    lemahnya keberadaan Mathla’ul Anwar di Provinsi Banten. “Eksistensi kita
    belum dirasakan secara luas, ini menjadi pekerjaan rumah besar,” ujar
    Jazuli, sambil menambahkan bahwa citra organisasi harus terus dibangun
    agar Mathla’ul Anwar lebih dikenal di Banten dan seluruh Indonesia.

    KH. Zaenal Abidin Suja’i, salah satu tokoh penting dalam Mathla’ul
    Anwar, juga menyoroti pentingnya peningkatan eksistensi organisasi di
    Provinsi Banten. “Eksistensi kita belum dirasakan secara luas, ini
    menjadi pekerjaan rumah besar,” ujar Zaenal. Ia juga menambahkan bahwa
    citra organisasi harus terus dibangun agar Mathla’ul Anwar lebih dikenal
    di Banten dan seluruh Indonesia.

    May Jen TNI (Pur), Wawan Ruswandi, menekankan bahwa penguatan
    pendidikan, dakwah, dan sosial harus menjadi prioritas utama agar
    Mathla’ul Anwar semakin baik di masa depan. “Kita harus memperkuat tiga
    pilar utama ini untuk masa depan Mathla’ul Anwar yang lebih baik,”
    ujarnya.

    H. Taufikurohman, Ketua DPW MA Provinsi Banten, mengungkapkan
    pentingnya pembenahan sektor pendidikan, dakwah, dan sosial agar
    Mathla’ul Anwar semakin baik di masa depan. “Kita harus memperkuat tiga
    pilar utama ini untuk masa depan Mathla’ul Anwar yang lebih baik,”
    ujarnya.

    Tokoh penting lainnya, Andi YH Djuwaeli, juga menegaskan bahwa
    penguatan pendidikan melalui madrasah harus menjadi prioritas utama
    dalam memastikan keberlanjutan Mathla’ul Anwar sebagai organisasi.

    Sebagai penutup, acara ini diakhiri dengan doa bersama dan foto
    bersama sebagai simbol kesiapan seluruh elemen Mathla’ul Anwar dalam
    menyambut Muktamar XXI yang akan segera berlangsung. Sebagai moderator
    acara ini, Eko Supriatno, Dosen sekaligus penulis produktif UNMA Banten,
    bersama Dr. Eneng Humaeroh, Dekan Fakultas Agama UNMA Banten,
    menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan
    pemerintah dalam mewujudkan organisasi yang lebih besar dan lebih
    berpengaruh di masa depan.

    Warga Mathla’ul Anwar di Banten menunjukkan komitmen yang tinggi
    untuk menyukseskan Muktamar XXI dan memperkuat peran Mathla’ul Anwar di
    masyarakat. Sarasehan ini menjadi bukti nyata bahwa gerakan regenerasi
    dan konsolidasi organisasi sudah dimulai. Mathla’ul Anwar siap
    menghadapi tantangan untuk menjadi ormas yang semakin besar dan berdaya
    saing di tingkat nasional dan internasional.*